Jembatani Budaya Lewat Bahasa, Sastra Inggris Unitomo Gelar Cultural Exchange "Harmony in Diversity"
Selasa, (29/07) — Program Studi Sastra Inggris Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) kembali memperkuat misi internasionalisasinya melalui gelaran Cultural Exchange Program bertajuk “Harmony in Diversity”. Acara lintas budaya ini mempertemukan mahasiswa dan siswa dari berbagai latar belakang untuk berinteraksi, belajar, dan bertukar perspektif budaya secara langsung. Bertempat di Aula Fakultas Sastra, Gedung H lantai 2, kegiatan ini digelar oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Inggris (ULISSES) bekerja sama dengan Laboratorium Budaya Fakultas Sastra Unitomo.

Sebanyak 11 mahasiswa dan siswa asal Korea-Amerika dari Washington, Seattle hadir sebagai tamu kehormatan, didampingi oleh 6 siswa dan 2 guru dari SMA Islam As Sakinah, Sidoarjo. Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan I Fakultas Sastra, Rahadiyan Duwi Nugroho., yang menyampaikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif mahasiswa dalam menyelenggarakan kegiatan ini. “Melalui program seperti ini, kita tidak hanya mengenalkan budaya Indonesia, tetapi juga menumbuhkan semangat toleransi dan wawasan global di kalangan mahasiswa,” ujarnya. Ia menambahkan, “Bahasa menjadi jembatan yang kuat untuk mempertemukan budaya yang berbeda dan membangun relasi yang saling memperkaya.”


Rangkaian kegiatan berlangsung meriah dengan penampilan Tari Remo oleh Fikris dari Aftert4ste Dance Club, yang dilanjutkan dengan sesi interaktif mengajarkan gerakan dasar kepada peserta asing. Nuansa keakraban semakin terasa saat peserta bersama-sama memainkan angklung dan membawakan lagu “Twinkle Twinkle Little Star”, “Gundul-Gundul Pacul”, serta “Wise Men Say”. Tidak hanya itu, peserta juga diperkenalkan pada busana tradisional Jawa dan Hanbok khas Korea, serta saling mencicipi jajanan pasar khas Surabaya dan makanan ringan Korea yang dibawa oleh peserta internasional.

Menurut Ananda, ketua pelaksana kegiatan, program ini dirancang sebagai ruang pertukaran pengetahuan dan budaya antar generasi muda dari berbagai bangsa. “Kami ingin menciptakan forum diskusi dan kolaborasi antar mahasiswa dan siswa, yang mempertemukan mereka dengan penutur asli dari luar negeri, sehingga mereka bisa memperluas perspektif global,” jelasnya. Salah satu peserta yang juga penutur asli Korea-Amerika, Lea Ong dari Seattle, menyampaikan kesannya, “Saya merasa sangat beruntung bisa mengalami budaya Indonesia secara langsung. Ini pengalaman yang luar biasa dan berkesan, kata Lea.
Sementara itu guru pendamping dari SMA Islam As Sakinah, Bapak Affandi, turut mengapresiasi acara ini sebagai sarana pembelajaran yang efektif. “Program ini membuka wawasan baru bagi siswa kami tentang budaya Korea-Amerika dan memberikan kesempatan langka untuk melatih kemampuan berbahasa Inggris langsung dengan penutur aslinya,” ucapnya. Acara ditutup dengan makan bersama dan sesi ramah-tamah penuh kehangatan, menegaskan bahwa perbedaan budaya bukanlah sekat, melainkan kekayaan yang patut dirayakan bersama.(Agbar//Kusuma)