Pelajari Potensi Ekonomi dan Budidaya Lokal, Mahasiswa KKN Unitomo Kunjungi Sentra Budidaya Anggur Desa Krejengan


Selasa (12/08), Kabupaten Probolinggo dikenal sebagai salah satu sentra penghasil anggur, untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) dari Kelompok Desa Krejengan mengadakan kunjungan edukatif dengan KOMPAK (Komunitas Pembudidaya Anggur Krejengan). Sebanyak 18 mahasiswa dengan  didampingi oleh para perangkat desa serta pengengola yang merawat tanaman anggur.  Mereka juga berinteraksi dengan pengelola dan staf desa untuk memahami proses pembentukan komunitas dan pengelolaan kebun anggur.

 

Kunjungan ini merupakan salah satu kegiatan kerja KKN di Desa  Krejengan yang bertujuan untuk mempelajari budidaya anggur secara langsung. “Jadi para mahasiswa KKN ini akan mendapatkan wawasan baru mengenai berbagai jenis anggur impor dan cara pengelolaannya”, ujar Fedianty Augustinah, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok Desa Krejengan.

 

Lebih lanjut, Fedianty menambahkan kegiatan ini dilakukan untuk mendukung program KKN dalam mengembangkan potensi lokal, anggur yang merupakan komoditas unggulan Probolinggo. Dengan belajar langsung, mahasiswa KKN diharapkan dapat membantu masyarakat dalam meningkatkan nilai ekonomi dan pariwisata melalui edukasi dan promosi. “Dengan adanya kunjungan ini, diharapkan para mahasiswa KKN dapat menjadi agen perubahan yang membantu masyarakat Krejengan dalam mengembangkan potensi anggur menjadi komoditas unggulan dan destinasi wisata yang berkelanjutan”, imbuhnya.

 

Kunjungan diterima langsung oleh Aziz, salah satu pengelola kebun anggur KOMPAK, yang dengan antusias membagikan ilmunya. Kebun anggur KOMPAK terletak di Desa Krejengan, tepat di samping Perpustakaan Aqila. Kebun ini menjadi pusat kegiatan komunitas pembudidaya anggur di wilayah tersebut. "Bibit anggur yang kami tanam seluruhnya impor dari luar negeri mulai dari Ukraina, Jepang, Amerika, dan Thailand. Dari kegiatan ini dapat membawa banyak dampak positif bagi masyarakat sekitar, saya juga berharap Desa Krejengan dan desa lainnya dapat menjadi sentra budidaya tanaman anggur”, ungkap Aziz.

 

Sementara itu, Arif selaku staf desa dan perawat anggur menceritakan, "KOMPAK awalnya terbentuk karena adanya lahan kosong yang tidak terpakai yang memang sebelumnya telah vakum, Dari lahan ini panen perdana anggur menghasilkan sekitar 3,5 kuwintal. “Saat ini, kebun anggur ini juga berfungsi sebagai wisata petik buah, yang diharapkan dapat menarik lebih banyak pengunjung dan meningkatkan pendapatan masyarakat”, pungkasnya.


Share this Post