Semarak Japan Fun Festival 2025 di Unitomo, Konjen Jepang Apresiasi Antusiasme Pelajar


Minggu,(27/07) — Nuansa budaya Jepang membanjiri pelataran Gedung H Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) dalam ajang Japan Fun Festival (JFF) 2025 yang digelar oleh Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Sastra. Mengusung tema 海の宝 (Umi no Takara), yang berarti “Harta Karun Laut”, acara ini merefleksikan potensi dalam diri manusia yang luas dan penuh makna, layaknya kedalaman samudra yang menyimpan kekayaan tersembunyi. Acara tahunan yang dinanti-nanti ini dihadiri langsung oleh Konsul Jenderal Jepang di Surabaya, Takonai Susumu, beserta istri. Turut hadir pula Wakil Rektor III Unitomo, Suyanto, yang mewakili Rektor, serta Dekan Fakultas Sastra, Tantri Suryawati, beserta seluruh jajaran dosen dan pejabat struktural Prodi Sastra Jepang.


Dalam sambutannya, Suyanto menyampaikan apresiasi tinggi atas penyelenggaraan JFF. “Kegiatan ini tidak hanya mempromosikan Program Studi Sastra Jepang kepada ratusan siswa SMA se-Jawa Timur, tetapi juga menjadi sarana yang sangat positif untuk memperkenalkan budaya Jepang sekaligus mengasah kemampuan soft skill dan bahasa Jepang para siswa,” ujarnya.





Konjen Jepang, Takonai Susumu, memberikan sambutan hangat yang menggugah semangat para peserta. Ia menyampaikan kekaguman atas dedikasi Unitomo dalam melestarikan budaya Jepang melalui kegiatan seperti JFF. “Saya sangat senang dapat hadir di tengah antusiasme anak-anak muda Indonesia yang mencintai Jepang. Kegiatan seperti ini adalah jembatan penting antara kedua bangsa. Saya percaya, dari sinilah akan lahir generasi yang mampu menjalin hubungan erat dan saling memahami antara Jepang dan Indonesia,” ungkapnya penuh semangat.




Salah satu sorotan utama dalam JFF 2025 adalah talkshow bertajuk “Self Acceptance: Saatnya Berdamai dengan Diri” bersama narasumber Sinta Yudisia, yang menjadi ruang refleksi bagi generasi muda. Ketua pelaksana JFF 2025, Zaki Firjatullah Safi, menjelaskan bahwa tema ini diangkat untuk menumbuhkan kesadaran pentingnya penerimaan diri di tengah tekanan sosial yang makin kompleks.











Selain itu, JFF juga menyuguhkan berbagai kompetisi kreatif dan akademik yang terbuka untuk umum, seperti J-Song (menyanyi lagu Jepang), Seiyuu (dubbing suara), fanart, desain karakter, hingga lomba akademik seperti Kanji, Cerdas Cermat, dan Roudoku (membaca karya sastra Jepang). “Tahun ini, kami mencatat lebih dari 300 peserta hadir dari berbagai daerah, bahkan ada yang datang dari Garut, Bekasi, dan Jakarta. Semoga JFF 2025 menjadi pengalaman budaya yang memperluas wawasan, mempererat jejaring, dan meninggalkan kesan mendalam bagi semua peserta”, ,” pungkas Zaki (Agbar/Rei-Ciphoc)


Share this Post